Berjalan Bersama Tuhan itu Unik

Perjalanan Pdt. David Bambang Irwanto

Saat awal saya terpanggil dalam pelayanan sampai sekarang ini merupakan sebuah perjalanan unik. Mengapa saya katakan unik, sebab kebanyakan orang bertobat saat mengalami masalah, masalah keuangan, masalah keluarga, sakit penyakit dan lainnya. Tetapi yang terjadi didalam diri saya, adalah sembuah perjalanan unik. Pertobatan diri saya pada tahun 1983 bulan September tanggal 20. Tepatnya saat saya menerima judi buntut (togel). Pada tahun tersebut saya mendapatkan Togel sebesar 300 juta, jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran tahun itu.

Saat saya mendapat nomor togel tersebut yang saya lakukan pertama adalah membeli Mercy Tiger, yang jaman itu harganya 30 juta dan saya inden di sebuah showroom untuk mendapatkannya. Pada tanggal 20 Desember ditahun yang sama, ada acara reuni keluarga yang jatuh dikota Tuban. Semua saudara dari ibu datang dan berkumpul di Tuban. Dan pada hari itu saya diajak ke gereja dan pada hari itu juga saya dibaptis. Ini semua saya lakukan hanya untuk menyenangkan hati orang tua saja, tidak ada niatan dalam diri saya secara pribadi untuk bertobat. Tetapi saat saya dibaptis, saya merasakan ada sesuatu yang lain didalam diri saya.

Uang yang saya peroleh dari judi togel itu tidak saya pergunakan untuk berjudi dan hidup berfoya-foya, tetapi justru pada tahun 1985 semua uang tersebut habis yang anehnya justru saya tidak tahu kemana perginya uang sebanyak itu. lebih aneh lagi semenjak saya dibaptis kegemaran saya lain dengan biasanya, tiap malam waktu saya habiskan untuk membaca Firman Tuhan yang saya mulai dari Kitab Kejadian, dan itu saya lakukan dengan berurutan. Ada sesuatu rahasia yang Tuhan ungkapkan didalam firman-Nya, sejak dibaptis saya tidak lagi datang kepada dukun, suhu untuk mencari nomor togel seperti yang saya lakukan dulu sebelum dibaptis. Dan uang hasil dari nomor togel saya putar untuk berdagang. Tapi anehnya, uang yang saya dapat malah habis padahal saya pakai berdagang.

Pada tahun 1985, rumah saya hampir sempat mau dilelang oleh pihak piutang. Malam hari saya berdoa kepada Tuhan, saya tanya kepada Tuhan, “mengapa Tuhan?… koq malah habis-habisan seperti ini?” seru doa saya. dan jawaban Tuhan itu melalui kaset kotbah yang saya dengar. Ada sebuah kesaksian didalam kaset tersebut bahwa “seorang yang kaya, dan memiliki toko, akhirnya tokonya terbakar saat dia bertobat. Dan dia datang kepada seorang hamba Tuhan dan hamba Tuhan tesebut mengatakan bahwa dulu sebelum bertobat, harta yang engkau miliki bukan dari Tuhan, maka Tuhan menghapuskan, supaya nanti diisi dengan berkat yang baru” peristiwa ini sama persis dengan apa yang sedang saya alami, seperti Firman Tuhan didalam Ulangan 23:18, dan pengertian yang saya peroleh adalah “Allah Bapa tidak ingin membangun perekonomian dengan menggunakan cara dunia”.

Saya mengimani apa yang akan saya peroleh seperti kesaksian tersebut. Tetapi saya sempat berdebat dalam hati saya, “bagaimana Tuhan, tidak halal dari mana?, kalau saya kalahpun saya juga keluarkan duit?” tetapi Tuhan memberikan pengertian demi pengertian kepada saya. “kalau yang ikut seribu orang dan yang menang hanya ada satu orang maka yang sembilan ratus sembilan puluh bersedih karena mereka harus membayar, jadi engkau yang menang sedang bersukacita atas penderitaan orang lain”. Jika demikian saya mengaku bersalah dihadapan Tuhan dan saya ingin hidup saya dipulihkan seperti janji Tuhan.

Pada tahun 1988 saya sudah tidak ada lagi kepercayaan dan mengalami kebangkrutan itu. tidak seorangpun yang datang untuk menolong saya, saya sempat kecewa berat dengan sikap saudara-saudara saya, tetapi saya tetap bertahan dan berpegang kepada janji Tuhan Yesus. dengan jalan seperti ini sekalipun Tuhan memberikan pengajaran kepada saya, kalau saya tidak boleh bergantung kepada manusia. Tidak lama kemudian adik saya paling kecil mengajak saya untuk melihat-lihat tambak, hanya untuk melihat-lihat saja, sampai akhirnya dua hari kemudian kakak saya yang ke tiga menelpone dan meminta kepada saya untuk mencarikan lahan tambak seluas satu hektar, yang waktu itu harganya 50 jutaan. Saya bantah, “duit siapa?, saya tidak punya uang”. Maka mereka mengatakan bahwa mereka yang akan memodalinya, dan saya mendapatkan satu setengah saham dari tujuh saham tersebut. Dan akhirnya kami mendapatkan 4 hektar area pertambakan.

Akhirnya empat periode saya yang hanya bermodalkan nekat saja dalam mengelolah udang windu, kami mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Bahkan selama empat periode tanam udang windu tersebut modal kembali. Sampai akhirnya keuntungan tidak sampai empat kali saja, tetapi lima periode kedepan keuntungan demi keuntungan yang kami peroleh. Pada periode yang ke sepuluh kami mengalami kerugian, kami rugi waktu itu hanya 1,4 juta saja. Dan mereka mengatakan bahwa berhenti saja, cukup. Dan mereka berkata kepada saya, sudah berhenti lalu tambaknya jual saja, dan uangnya ambil saja. Waktu itu harga tambak sekitar 200 jutaan, harga yang fantastis pada tahun 1994. Padahal waktu itu saya sudah mendapatkan pernyataan dari Tuhan kalau saya harus meninggalkan tambak dan sepenuh waktu masuk dalam pelayanan. Tetapi saya bersikukuh sebab banyak orang di gereja yang terlibat.

Saya tidak menghiraukan akan peringatan Tuhan dan saya tetap asyik bertambak ria, pada akhirnya periode demi periode saya mengalami keuntungan dari sebelas, duabelas, dan pada periode ke tiga belas saya mengalami kerugian dan kerugiannya luar biasa, duakali keuntungan tidak dapat menutup kerugian. Sampai tambaknya terjual dan jari kaki saya patah tertindih genset. Dan akhirnya dengan terpaksa tambak dijual dan berhenti. Dan laku dari hasil penjualan tambak tersebut hanya laku seratus juta ini separuh harga dari penawaran semula. Akhirnya semuanya untuk menutupi hutang-hutang yang tersisa.

Setelah kejadian tersebut saya banyak belajar langsung dari Tuhan, dan saat ini saya bersama isteri (ibu Ester) dan keempat anak dan ketiga cucu. (JS).